Thursday, July 16, 2009

Cerita Bijak: UBAH DULU YANG DI DALAM

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesan melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak dipasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan.
Apa daya, setelah diperbaiki hingga ketiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!
Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu—setelah bertukar sapa begitu akrab dengan tuan rumah—tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, “Teman, tolong jangan dipelototi begitu, dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?”
“Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter objek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan, Bu?” tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.
“Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya,” si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian, mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.
Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.
Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita ubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.
Dengan mengubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi di luar juga ikut berubah. Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan dengan mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima perubahan dengan cara mengubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.***
Baca selengkapnya…. - Cerita Bijak: UBAH DULU YANG DI DALAM

Wednesday, July 15, 2009

Tahukah: BBM ANGGREK


Rupanya, negara kita meski bukan dianggap sebagai negara maju, terbukti banyak pencapaian yang dilakukan oleh SDM-nya. Salah satunya yang beberapa waktu lalu dilakukan sejumlah petani anggrek di daerah Situbondo dan Bondowoso, Jawa Timur.
Dua daerah yang masuk sebagai daerah tertinggal itu, justru mampu memberdayakan tanaman anggrek sebagai pengganti bahan bakar kapal motor nelayan. Penemuan itu sendiri sebenarnya adalah hasil penelitian kerja sama antara Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), pihak swasta, dan masyarakat sekitar untuk mengantisipasi naikknya harga bahan bakar kapal nelayan.
Tanaman anggrek yang sebelumnya sudah mulai dibudidayakan di kedua daerah tersebut, pertama kali diolah untuk dijadikan bahan dasar pembuatan minyak. Setelah minyak berhasil diperoleh, bahan ini diolah lagi sehingga bisa dipakai untuk bahan bakar. Melalui cara ini, diharapkan ke depan akan semakin diperoleh banyak bahan alternatif pengganti bahan bakar sehingga ketergantungan pada bahan bakar konvensional bisa ditekan.***
Baca selengkapnya…. - Tahukah: BBM ANGGREK

Tuesday, July 14, 2009

Resensi: THE FIVE PEOPLE YOU MEET IN HEAVEN

Penulis Mitch Albom
Alih bahasa Andang H.Sutopo
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2005, Cetakan pertama
Tebal 208 hal
Awalnya, membaca judulnya , saya mencurigai buku ini sebagai kisah religius tentang kehidupan sesudah mati, tempat orang bertemu malaikat, bidadari, dan Tuhan. Atau hanya kisah lucu-lucuan tentang surga. Ternyata, kecurigaan saya salah semua. Ini "hanya" sebuah novel "biasa" tentang seseorang bernama Eddie yang semasa hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan bekerja di bagian pemeliharaan (maintenance)--karena itu orang-orang lalu mengenalnya sebagai Eddie Maintenance-- di sebuah taman hiburan bernama Ruby Pier. Biasa? Tidak juga, sebab pesan moral buku ini, sedikitnya, telah membuka hati saya melalui sebuah pertanyaan : telah bergunakah hidup saya bagi orang lain di dunia ini?
Eddie meninggal tepat di hari ulang tahunnya (seterusnya, setiap bab buku ini selalu berkenaan dengan ulang tahun Eddie) yang ke-83. Ia meninggal dalam usahanya menyelamatkan seorang anak kecil yang nyaris mati tertimpa sebuah wahana di Ruby Pier karena putus kabelnya. Anak itu selamat, dan Eddie menemui ajalnya, ke surga di alam baka.

Di alam baka inilah, Eddie lalu berjumpa dengan lima orang yang masing-masing menceritakan kisah Eddie selama hidup di dunia. Ya, semacam flash back-lah. Orang pertama yang dijumpainya adalah Si Orang Biru, seseorang dari masa kecil Eddie yang "dikenalnya" di tenda-tenda sirkus Ruby Pier. Ia penutur kisah masa kecil Eddie yang bahagia dengan cinta kasih seorang ibu serta seorang ayah yang tak pernah bisa didekatinya serta seorang kakak lelaki, Joe.

Orang kedua adalah Kapten, bertugas menceritakan kehidupan Eddie di masa remaja yang dilaluinya dengan ikut berperang di Filipina. Ketika itu usianya 17 dan ia jatuh cinta pada Marguerite. Ia juga telah bekerja di Ruby Pier membantu ayahnya di bagian maintenance. Tetapi karena pecah perang, pengunjung taman hiburan itu jadi semakin sedikit, maka ia memutuskan ikut bergabung sebagai tentara sukarelawan seperti anak-anak muda lainnya masa itu, meninggalkan ayah, ibu, Joe, dan kekasihnya, Marguerite ,untuk pulang kembali kemudian dengan membawa cacat permanen di kakinya beserta trauma psikis berkepanjangan.

Di Filipina, ia berada di pasukan yang dipimpin Kapten. Suatu kali, mereka tertangkap musuh dan ditawan selama hampir enam bulan sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri. Dalam usaha meloloskan diri ini Kapten terpaksa menembakkan sebutir peluru ke kaki Eddie demi menyelamatkan hidup pemuda itu. Waktu itu Eddie tengah berusaha menyelamatkan seseorang dari dalam sebuah gubuk yang dibakarnya bersama teman-temannya. Pada bagian ini, penulisnya menyatakan sikapnya yang anti perang. Perang selalu berakibat kehancuran bagi kedua belah pihak serta meninggalkan luka batin yang tak mudah disembuhkan untuk waktu lama bagi meraka yang terlibat langsung di medan-medan pertempuran. Ibu-ibu kehilangan anak lelakinya; para istri kehilangan suami; bocah-bocah tak lagi berayah...

Orang ketiga adalah Ruby, istri pemilik pertama Ruby Pier sebelum terbakar dan dijual kepada pemiliknya yang sekarang. Wanita tua ini mendapat tugas mengisahkan bagian kehidupan Eddie sekembalinya dari perang. Dengan cacat kaki dan trauma psikis yang dibawanya dari medan pertempuran, tak mudah bagi Eddie menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia jadi pemurung. Hubungannya dengan sang ayah kian memburuk. Ayahnya tak suka melihat ia hanya bermalas-malasan berbaring di sofa tanpa melakukan apapun. Ayanhnya tak mengerti betapa malam-malam Eddie selalu dihantui mimpi-mimpi buruk tentang perang, gubuk terbakar, para penawannya, teman seregu yang mati di depan matanya....Ayahnya memaksanya untuk segera bangun dan mencari pekerjaan yang akhirnya memicu pertengkaran di antara mereka. Sejak itu, ayahnya tak pernah mau bicara lagi dengannya. Selamanya.

Semua orang tua merusak anak-anak mereka. Tak bisa dihindari. Anak-anak, seperti gelas cair, mengikuti bentuk yang dibuat oleh pencetak mereka. Sebagian orang tua membuat buram, sebagian membuat retak, sebagian lagi meremukkan masa kecil menjadi pecahan-pecahan yang tak mungkin lagi diperbaiki (hal. 108)
Kritik yang bijaksana buat para orang tua yang selalu menginginkan anaknya menjadi apa yang diinginkan orang tua, bukan menjadi diri mereka sendiri.

Orang selanjutnya adalah Marguerite, istrinya, yang meninggal karena kanker otak pada usia 47 tahun. Marguerite kebagian jatah menceritakan kisah percintaan mereka sejak pacaran sampai menikah. Marguerite tahu betapa Eddie mencintai dirinya melebihi apapun di dunia. Mereka hidup berbahagia dengan cinta mereka. Sayangnya, perkawinan itu tak dikarunia anak seorangpun. Ketika mereka berniat mengadopsi seorang anak, sebuah peristiwa pada malam ulang tahun Eddie yang ke-39, mengubah segalanya, nyaris menghancurkan cinta kedua orang tersebut.
Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus bergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup (hal.169)

Dan akhirnya, berjumpalah Eddie dengan orang ke lima yang mengabarkan padanya bahwa ia telah berhasil menyelamatkan anak kecil yang nyaris mati tertimpa wahana di Ruby Pier. Pada saat yang tepat, Eddie mendorong anak tersebut sehingga terhindar dari kematian tragis hari itu. Orang ke lima ini juga membawa kabar gembira yang lain buat Eddie, bahwa selama hidupnya Eddie telah menjadi orang baik dengan setia kepada pekerjaannya sebagai pemelihara wahana-wahana di Ruby Pier. Dengan pekerjaannya itu, ia telah menyelamatkan banyak orang dan anak-anak yang berkunjung ke taman hiburan tersebut. Siapakah orang ke lima itu?

The Five People You Meet in Heaven atau dalam edisi bahasa Indonesia menjadi Meniti Bianglala ditulis oleh Mitch Albom, penulis yang ngetop dengan bukunya yang berjudul Tuesdays with Morrie. Novel The Five ini meninggalkan satu pesan moral buat saya agar tak menyia-nyiakan hidup (sementara tentang konsep surga/alam baka yang ditampilkan di sini, saya tidak terlalu peduli) Hidup ini karunia terbesar yang Tuhan berikan, hendaknya kita mengisinya dengan hal-hal bermanfaat bagi kita dan orang lain.

Mitch Albom mempersembahkan buku ini bagi pamannya, Edward Beitchman, yang telah memberikan konsep pertama mengenai surga padanya. Waktu saya kecil, guru mengaji saya sering sekali menakut-nakuti muridnya dengan neraka. Anak-anak yang nakal, malas, dan melawan guru serta orang tua, kelak pada hari kiamat, akan dimasukkan ke dalam neraka, dibakar oleh api yang panasnya ribuan kali panas api di bumi. Berbagai macam siksaan paling kejam dan sadis akan diterima oleh orang-orang yang semasa hidupnya berbuat jahat (biasanya saat guru mengaji saya bercerita begini, imajinasi saya tentang Tuhan adalah sosok besar dengan mata merah, rambut awut-awutan, memegang cambuk seperti Fir'aun)

Sebaliknya, bagi murid yang rajin, tekun, pandai, dan saleh, kelak hadiahnya adalah surga nirwana, di mana mengalir sungai-sungai susu di dalamnya. Para bidadari cantik akan setia melayani semua kebutuhan kita. Di taman-tamannya yang indah bertumbuhan pohon apel dengan buahnya yang merah ranum. Kita tinggal memetiknya begitu saja. Tak ada kesusahan di surga. Segalanya serba enak dan nikmat (nah, kali ini bayangan saya tentang Tuhan adalah sesosok lelaki besar dengan wajah lembut tampan memakai jubah putih bersih seperti pakaian ihram para jema'ah haji, duduk di sebuah singgasana tinggi, memandang penghuni surga sembari tersenyum menyejukkan)

Hingga saya dewasa, ternyata cerita tentang surga dan neraka masih sering saya dengar dikumandangkan oleh para penceramah di mesjid dekat rumah saya. Biasanya pada bulan Ramadhan, setelah salat isya dan sebelum tarawih. Dari tahun ke tahun, penceramah langganan mesjid saya selalu datang dengan kisah yang sama.

Masing-masing orang mempunyai bayangan sendiri tentang surga, begitu pula sebagian besar agama; semuanya patut dihormati. Versi yang digambarkan di sini hanyalah dugaan, harapan, agar paman saya, dan orang-orang lain seperti dia--yang merasa keberadaannya di dunia tidaklah penting--akhirnya menyadari betapa mereka sangat berarti dan disayangi. Demikan Albom menulis di lembar pertama novel ini. Ya sih, tak ada suatu kebaikan yang sia-sia yang sudah kita lakukan , meski itu sekedar menyingkirkan duri di jalan.***
Baca selengkapnya…. - Resensi: THE FIVE PEOPLE YOU MEET IN HEAVEN

Monday, July 13, 2009

Guru: RANGKUMAN INOVASI MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Pada hakikatnya tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah adalah untuk mengembangkan keterampilan berbahasa baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan berbahasa yang dimaksud tidak lain adalah keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran tersebut sangat sulit direalisasikan di lapangan; kalau tidak mau dikatakan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra telah gagal. Salah satu faktor penyebab kegagalan tersebut adalah kurang bervariasinya model-model pembelajaran yang dilaksanakan.

Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi pembelajaran berbasis kompetensi antara lain (1) belajar tidak hanya sekedar menghapal, tetapi siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dan kemampuan di benak mereka sendiri, (2) anak belajar dari mengalami, yaitu anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru, (3) para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter), (4) pengetahuan tidak dapat dipisah-dipisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan, (5) siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, (6) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit demi sedikit, (7) penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu, (8) tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri, (9) proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.
Pendekatan belajar yang berasaskan konstruktivisme antara lain: (1) pendekatan kontekstual, (2) life-skills education, (3) pendekatan CBSA, (4) pendekatan inkuiri, (5) pendekatan pemecahan masalah, (6) pendekatan proses, (7) pendekatan kuantum (Quantum Teaching and Learning), (8) authentic instruction, (9) pendekatan kooperatif, dan (10) work-based learing.
Pengajaran bahasa Indonesia dijalankan melalui pendekatan komunikatif, pendekatan tematis, dan pendekatan terpadu. Pendekatan komunikatif mengisyaratkan agar pembelajaran bahasa Indonesia diorientasikan pada penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi (bukan pembekalan pengetahuan kebahasaan saja). Pendekatan tematis menyarankan agar pembelajaran bahasa diikat oleh tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa, yang digunakan sebagai sarana berlatih membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Pendekatan terpadu menyarankan agar pengajaran bahasa Indonesia didasarkan pada wawasan Whole Language, yaitu wawasan belajar bahasa yang intinya menyarankan agar kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan terpadu antara membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan konsep itu, dalam jangka panjang, target penguasaan kemahirwacanaan itu diharapkan bisa tercapai.
Pembelajaran membaca dapat menggunakan pendekatan proses. Adapun proses membaca meliputi: persiapan untuk membaca, membaca, merespon, mengeksplorasi teks, dan memperluas interpretasi. Proses membaca tidak dimulai dengan membuka buku dan langsung membaca, tetapi melalui persiapan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) memilih buku/bacaan, (2) menghubungkan buku/bacaan dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca sebelumnya, (3) memprediksi isi buku/bacaan, dan (4) mengadakan tinjauan pendahuluan terhadap buku/bacaan.
Pembelajaran menulis dapat menggunakan pendekatan proses pembelajaran menulis dengan pendekatan proses meliputi lima tahap, yakni pramenulis, menulis draf, merevisi, menyunting, dan mempublikasi. Ada beberapa model pembelajaran berbicara yang dilakukan, antara lain percakapan, berbicara estetik, berbicara bertujuan, dan aktivitas drama.
Pembelajaran tata bahasa yang meliputi tata bunyi, ejaan, tata kata, tata kalimat, paragraf, dan wacana akan sangat tepat jika dilakukan secara terpadu dan kontekstual dengan pembelajaran keterampilan berbahasa baik menyimak, membaca, menulis, maupun berbicara. Setelah siswa melakukan kegiatan menyimak, misalnya, kegiatan dapat dilanjutkan dengan diskusi tentang kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pada kesempatan itu, guru dapat mengambil beberapa contoh kalimat tunggal dan majemuk yang ada pada bahan simakan untuk dikaji atau dianalisis bersama-sama oleh siswa. Biarkan siswa menganalisis sendiri apakah kalimat itu termasuk kalimat tunggal atau majemuk sampai mereka dapat menyimpulkan sendiri apa itu kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
Pembelajaran kosakata dapat menggunakan metode langsung atau taklangsung. Dengan metode langsung, guru dapat secara khusus mengajak siswa untuk mengkaji tentang sinonim, antonim, atau yang lain dengan menggunakan berbagai strategi seperti penggunaan kamus, semantik mapping, atau diagram pohon. Dengan metode taklangsung, guru dapat mengajak siswa untuk mengkaji penggunaan kosakata tertentu setelah mereka mengikuti kegiatan keterampilan berbahasa. Setelah membaca, misalnya, guru bisa mengajak siswa untuk mengkaji homonim atau homograf yang terdapat dalam bacaan.
Salah satu model pembelajaran sastra yang apresiatif adalah pembelajaran sastra dengan pendekatan resepsi sastra. Pembelajaran sastra dengan pendekatan resepsi sastra menghendaki siswa untuk lebih banyak berinteraksi dengan karya sastra. Tanpa banyak diberikan teori, siswa diminta langsung mengenal (dengan membaca atau mendengarkan), menikmati, dan menghayati (dengan berbicara dan menulis) karya sastra dimaksud. Dengan demikian, dengan model ini siswa banyak bergaul dengan karya sastra baik itu mendengarkan, berbicara, dan membaca, maupun menulis.***
Baca selengkapnya…. - Guru: RANGKUMAN INOVASI MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Friday, June 19, 2009

Cerpen: Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.
Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.
Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.
Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”
Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.
“Catat nomernya! Catat nomernya!”
Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.
Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.
Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.
“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”
Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.
Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.
Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.
Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.
Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.
“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”
Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.
Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.
Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.
“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”
Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….
Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.
Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.
Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…
Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.
Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.
Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.
Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
–Cerpen Pililihan Kompas 1993
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Sepotong Senja Untuk Pacarku

Cerpen: Hujan, Senja, dan Cinta

Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia .1
Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu.
”Hujan, o hujan …” Dia berbisik.
Dia begitu berbahagia menyadari cinta kekasihnya yang begitu besar, sehingga menjelma hujan yang selalu dirindukannya. Dia tahu betapa ia selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dia terharu dengan cinta yang membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Dia memandang keluar jendela, menembus tirai kelabu, melewati desau pohon-pohon bambu yang basah dan berkilat dalam hujan dan angin, mengirimkan getaran cinta yang melesat sepanjang langit mnuju kekasihnya di balik kabut. Kilat berkeredap dan guntur menggelegar diatas gunung dalam pertemuan cinta yang panas dan membara.
Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Sambil menyetir, dari dalam mobil selalu diusapnya kaca jendela. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, melucur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta. Dari milan, dari Kyoto, dari Jakarta…
Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap kedalam tubuh, menjadi bagian dari alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya. Bila dia keluar rumah, lenyap pula hujan. Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan. Sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta.
”Heran,” kata pembantu rumah tangga di rumahnya, ”setiap kali ibu pergi, hujan berhenti, kalau Ibu datang, hujan lagi.”
”Heran,” kata kawan-kawannya, ”belakangan ini, asal kamu datang pasti hujan, kamu pergi hujan hilang. Padahal bukan musim hujan.”
Suaminya, yang selalupeka terhadap suasana hati istrinya, menadahi air hujan itu, dan membawanya ke laboratorium.
”Ah, ini hujan karena cinta,” katanya kemudian, ”siapa lagi yang jatuh cinta kali ini?”
Dia terkesiap dalam hati. Tapi wajahnya dingin saja.
”Tidak ada apa-apa. Kenapa sih?”
”Kamu kira bisa menutupi perasaanmu yang berbunga-bunga?”
Dia diam saja. Memang hatinya berbunga-bunga.
Diluar hujan masih saja menderas. Air hujan menganak sungai disela-sela rumput, dedaunan basah dan bergoyang-goyang. Tanpa diketahui suaminya dia mengusap seluruh embun disetiap kaca jendela rumah dengan kedua telapak tangannya., lantas membasuh wajahnya. Tubuhnya bergetar dan jiwanya menangis karena terharu. Hujan yang sangat disukainyatak pernah lenyap lagi dari hidupnya. Kekasihnya yang tak terlihat telah mengirimkannya dari jauh atas nama cinta, hanya untuk dirinya saja.
”Hujan, o hujan” desahnya sembari memandang keluar jendela setiap malam.
***
Kemudian tibalah saat ketika cinta diantara dia dan ia memudar. Sebarapa lama sih umur cinta? Hujan yang semula mewakili perasaan cinta yang dahsyat itu sekarang terasa sangat menganggu.
”Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat semua orang jadi terganggu. Setap keluar mobil aku harus pakai payung. Jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong? Kasihan tamu-tamuku. Dimana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu ini?”
”Mana bisa? Hujan itu akan selalu ada selama aku masih mencintai kamu.”
”Kamu kira aku senang dicintai kamu? Nggak usah cinta-cintaan lagilah. Tarik hujanmu ini.”
”Sudah kubilang, selama aku mencintai kamu, tidak bisa.”
”Kalau begitu jangan mencintai aku. Bikin repot saja.”
”Bukan salahku. Siapa yang cintanya memudar? Dulu minta-minta dikasih hujan, sekarang omongannya begitu.”
”Bukan salahku aku tidak mencintai kamu lagi. Cewek seabreg begitu. Mana kutahu kamu tetap setia?”
”Aku tetap setia. Menyentuh pun aku tidak pernah.”
”Bukan itu ukuran kesetiaan”
”Apa dong?”
”Sudah kubilang cinta itu abstrak.”
”Tidak.”
”Menurut kamu?”
”Cinta itu konkret.”
”Buktinya?”
”Hujan itu.”
Ia dan dia betengkar sampai malam sambil minum bir plethok. Aneh sekali. Mereka bahagia dalam pertengkaran itu. Barangkali karena mabuk.
”Setidaknya kita masih punya perasaan,” meraka merumuskan setangah mabuk.
Namun hubungan mereka tidak tertolong. Semenjak pertemuan terakhir itu, ia dan dia tidak pernah berjumpa lagi. Meskipun begitu hujan itu tetap mengiringi dia. Perempuan itu selalu bisa melihatnya dari balik jendela loteng, dimana dia mengalihkan cintanya melalu e-mail ke seluruh dunia.
”Masih cinta juga tuh si doi sama istri macam kamu?” suaminya menyindir.
Dia tak pernah menjawab. Tapi dia tahu jika ia masih mencintainya.
***
Sulit sekali bagi ia untuk tidak mencintai dia. Selama itu pula ia tidak mampu menarikkembali hujan cintanya yang menderas dari langit.
”Pikirkan saja istri kamu,” kata istrinya yang menangkap kegelisahan suaminya, ”jangan istri orang lain jadi beban pikiran.”
Ia tak pernah menjawab, karena tidak ada yang bisa dijelaskan. Setiap kali ia melewati jalan layang yang terlihat di mana sepetak hujan itu berada, tapi ia sudah tidak menghendaki perjumpaan macam apapun. Hatinya hancur berantakan seperti keramik jatuh ke landasan dari pesawat kargo yang sedang take off. Dengan kesal dihapusnya nomor-nomor telepon dia dari hand-phone, namun ini hanya membuat ia semakin kesal, karena toh masih hapal juga. Terlalu banyak hal dari dia telah meresap kedalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaanya meresap kedalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Ia tak bisa lagi memandang segala sesuatu didunia ini seperti sebelum berjumpa dengan dia, ia tak bisa lagi berpikir di luar cara berpikir seperti dia. Mereka telah berpisah, tapi tidak terpisahkan. Begitukah caranya cinta berada? Pikirnya. Tapi setiap kali berpikir ia teringat dia. Maka ia berusaha berhenti berpikir. Ia marah sekali dengan cinta.
”Taik kucing dengan cinta,” umpatnya dalam hati.
Namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkanya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang sudah terhapus. Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah saja: Tidak ada janji | pada pantai.2
Ia pun tahu, tak ada janji pada perjumpaan yang manapun – tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling mebara sekali pun hanyalah janji seuatu senja yang terindah. Kecuali di negeri senja, adakah senja yang tidak berakhir?
”kuberikan segalanya untukmu,” katanya kepada dia, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang kau mau.”
Dia hanya tersenyum menghela napas, memandang senja yang dipantulkan kaca-kaca gedung bertingkat.
”Lihatlah senja di kaca gedung itu,” kata ia kepada dia.
”Kenapa?”
”Bila engkau melewati jalan ini, senja itu masih akan berada disana, selama-lamanya.”
”Bisa?”
”Bisa sekali, selama engkau masih mencintaiku.”
”Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu.”
”Tidak perlu. Senja itu sudah mengatakannya.”
Dia melihat langit senja yang menjadi abadi di kaca-kaca gedung bertingkat itu. Dia tahu betapa sulitnya melihat matahari tenggelam di Jakarta. Tapi kini ia telah mengabadikan senja ke kaca-kaca gedung bertingkat untuk dirinya saja. Dia bahagia sekali, namun tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun tidak berkata apa-apa.
Mereka berdua menatap langit, kubah senja yang merah membara bagaikan sebuah impian yang menjanjikan bahwa Negeri Senja memang betul-betul ada. Tapi langit yang semburat kemerah-merahan itu hanyalah sebuah janji yang sebaliknya. Setiap detik terjadi perubahan warna, dari merah yang membara sampai memancar keemas-emasan ketika matahari mestinya telah terbenam. Mereka tak bisa melihat matahari di balik gedung. Senja yang keemasan-emasan itu kemudian dengan pasti menggelap, semakin gelap, dan menjadi malam. Bagi mereka yang terbiasa mengamati senja, akan selalu tahu bahwa senja belum betul-betul berakhir ketika matahari terbenam, dan senja masih juga berbisiki-bisik ketika langit jadi gelap dan permukaan air laut yang tadinya berwarna emas seolah-olah mendadak lenyap, tinggal kecipak suara lidah ombak. Pada saat seperti itu, sebuah renungan telah mencapai kesimpulannya.
Namun mereak tidak berada di pantai. Mereka di tengah kemacetan jakarta yang tidak membri peluang untuk kalimat yang – seperti kutipan sebuah sajak–-bisa berlarat-larat .3
”Mengapa kita tidak mencari bir plethok,” ujar perempuan itu.
Ia mengangguk. Ia berkesimpulan, banyak perempuan Jakarta suka bir plethok.4
***
Dia memandang keluar jendela lagi pagi itu. Sudah beberapa minggu ini diperhatikannya hujan itu berubah, dulunya lumayan deras, sekarang kederasannya lumayan berkurang, meski belum jadi gerimis.
”Apakah cintanya mulai berkurang?” pikirnya.
Kali ini dia sendiri yang menadahi air hujan itu dengan sebuah gelas, dan membawanya ke laboratorium.
Cinta mulai berkurang. Begitu tertulis dalam kertas laporan, dan dia merasa kecewa. Aneh, dia sendiri yang dahulu menolak hujan itu, dan sekarang ketika hujan itu menujukkan tanda-tanda mereda, dia merasa penasaran.
”Kenapa cintanya bisa berkurang? Cinta itu mestinya abadi dong!”
Dengan setengah panik dia memencet-mencet handphone, tapi tiada jawaban. Dia kirimkan sebuah lagu kelompok Queen melewati voice mail. Sebuah lagu yang menjerit:I Stil Love Youuuu! 5
Tapi semuanya sudah terlambat. Pada senja hari itu juga hujan yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi berubah menjadi gerimis dan akhirnya berhenti sama sekali.
”Hujan, o hujan, kemana kamu hujan,” desahnya
Pada senja hari itu dia menatap keluar dari jendela lotengnya, dilihatnya langit yang kemerah-merahan. Langit begitu cerah. Hujan sduah berhenti. Dia tahu betapa ia menyukai langit senja yang kemerah-merahan seperti itu. Dia ingin mengirimkan senja itu kepadanya, sebagai tanda bahwa dia masih mencintainya – mungkin cintanya memang masih ada sedikit, mungkin agak banyak, mungkin pula hatinya tak pernah berubah sebetulnya, tak jelaslah. Saat itu, detik itu, dia ingin sekali.
Dia menatap langit senja di kejauhan sana, dan tahu itu bukan miliknya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaanya.

”Mungkin aku terlalu sentimentil,” pikirnya.6


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Pondok Aren, Minggu 30 Juli 2000.

1. Dalam cerita ini, ia adalah kataganti orang ketiga lelaki, dan dia adalah kata ganti orang ketiga perempuan.
2. Dari sajak Goenawan Mohamad, pada sebuah pantai: interlude(1973)
3. Ibidem
4. Cocktail dengan unsure bird an tequila
5. Dari lagu Love of My Love dalam album Live Killers (Juli 1979) vocal oleh Freddy Merkuri (1946-1991)
6. Sajak Pada sebuah Pantai: Interlude(1973) dimulai dengan: semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak sentimentil
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Hujan, Senja, dan Cinta

Cerpen: Jawaban Alina

Sukab yang malang,
Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.
Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.
Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.
Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang. Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.
Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,
Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?
Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.
Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,
Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin, beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab. Soal cinta ini sama sekali tidak penting.
Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.
Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?
Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.
Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,
Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.
Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati. Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.
Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas. Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.

Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.

Alina


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Pondok Aren, Sabtu 10 Februari 2001, 20:45
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Jawaban Alina

Cerpen: Saksi Mata

Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.
“Terlalu!”
“Edan!”
“Sadis!”
Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.
“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”
Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Di manakah mata saudara?”
“Diambil orang Pak.”
“Diambil?”
“Saya Pak.”
“Maksudnya dioperasi?”
“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”
“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)
“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”
“Yang mengambil mata saya Pak.”
“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”
“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”
“Saudara tidak tanya bego?”
“Tidak Pak.”
“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”
“Saya Pak.”
“Jadi saudara melihat seperti apa orangnya kan?”
“Saya Pak.”
“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”
Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.
“Ada beberapa orang Pak.”
“Berapa?”
“Lima Pak.”
“Seperti apa mereka?”
“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”
“Masih ingat pakaiannya barangkali?”
“Yang jelas mereka berseragam Pak.”
Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.
***
Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.
“Seragam tentara maksudnya?”
“Bukan Pak.”
“Polisi?”
“Bukan juga Pak.”
“Hansip barangkali?”
“Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”
“Mukanya ditutupi?”
“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”
“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”
“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”
Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.
Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.
Tapi orang-orang tidak melihatnya.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”
“Mereka berlima Pak.”
“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”
“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”
Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.
“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”
***
Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.
“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”
“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”
“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.” “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”
“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”
“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”
“Saudara kan bisa saja gila.”
“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”
“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”
“Saya Pak.”
“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”
“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”
Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.
“Absurd,” gumamnya.
Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.
***
Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”
“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”
“Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”
“Saya Pak.”
“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”
“Saya Pak.”
“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”
“Saya Pak.”
“Kenapa?”
“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”
Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.
Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.
“Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.
“Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”
Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.
***
Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”
Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.
Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya. Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.
Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Jakarta, 4 Maret 1992
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Saksi Mata

Cerpen: Keroncong Pembunuhan

hampir malam di Yogya
ketika keretaku tiba

Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.
Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan.
Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm…

Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!”


Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya.
“Kamu sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu.
“Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?”
“Sabar dong, sebentar lagi.”
Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini.
“Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja.
“Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.”
Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku.

“Tapi satu hal kau boleh tahu.”
“Apa?”
“Orang itu pengkhianat.”
“Pengkhianat?”
“Ya, pengkhianat bangsa dan negara.”
Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu.
Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.
Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan.
sepasang mata bola
dari balik jendela
Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu?

Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting.
Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir.
“Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu.
“Ya, kenapa?”
“Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!”
Aku bergegas kembali ke teras.
“Bagaimana? Sudah datang orangnya?”
“Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.”

Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak.
“Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku.
“Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”
Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah.
Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya.

“Apakah harus kulakukan sekarang?”
“Nanti dulu, tunggu komando!”
Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina….
Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya.
Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk.

Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya.
“Bagaimana? Sekarang?”
“Aku bilang tunggu perintah!”
Sialan cewek itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara.
“Tunggu perintah apa lagi?”
“Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!”
“Ini tidak ada dalam perjanjian.”
“Ada! Kamu jangan main gila.”
selendang sutra
tanda mata darimu

Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah!
“Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis.
“Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya.
“Tembak sekarang!”
Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar.

Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat?
“Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?”
“Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana?
“Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”
“Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!”
Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu.
“Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin.
“Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget.
“Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”
“Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”
“Justru kamu yang bisa segera mati.”
“Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”

“Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat.
“Kamu sudah melanggar kontrak.”
“Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah.”
“Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.”
“Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!”
Wanita itu tampak beranjak akan lari.
“Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.”
Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah.
“Apa maumu?”
“Katakan kesalahannya.”
“Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”

“Cuma itu?”
“Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.”
“Lantas?”
“Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.”
“Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.”
“Itu bukan urusanmu. Ini politik.”
“Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.”
Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba.
“Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Leontinmu manis…”
“Ah, jangan, jangan tembak! Please…”
“Siapa?”
“Aku…aku bisa celaka.”
“Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…”
“Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.”
“Dua….” Hmm, alangkah gugupnya dia.
“Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.”
“Berkacamata?”
“Ya.”

Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua.
Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.
Inilah keroncong fantasiii


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Keroncong Pembunuhan

Cerpen: Bunyi Hujan di Atas Genting

Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri:
Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting.
Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar.


Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato.
Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya.

Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk.
Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya.
Sawitri pernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan.

Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah.
Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur.

Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka.
Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata yang menolak takdir.

Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan.
Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore.

“Lihat! Satu lagi!”
“Mampus!”
“Modar!”
“Tahu rasa dia sekarang!”
“Ya, tahu rasa dia sekarang!”
“Anjing!”
“Anjing!”
Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato.

Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul…
Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak.

Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru.
Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf besar…
Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum.

Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu!
Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya.

Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu?
Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu.

Apakah Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama?
Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan…

“Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu.
Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.”***


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Bunyi Hujan di Atas Genting

Cerpen: Grhhh!

Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks.
“Bintara Sarman?”
“Siap Pak!”
“Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!”
“Siap Pak!”
Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada.

Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan.
Dalam cahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan.
Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati.
Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama sekali.

Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh!
Gerakan sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak.
Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal.

Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya.
“Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!”
“Untuk apa?”
“Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!”
“Monster? Monster apa?”
“Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!”
“Rudal apa ini yang diminta?”
“Dasar goblok! Rudal antitank!”

Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget.
Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi.
“Palmerah! Cepat!”

Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita:
. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat.
Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol.

Kini para dokter sedang memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan.

Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Terlalu. Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di film Barat. Maknyadirodog!”

Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe.
“Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!”
Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat.
“Siap Pak!”
Dan segera Reserse Sarman menghilang.
“Lho, mana uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya.

Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair.
Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau?
Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi.

Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh!
Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan mana yang merasukinya?
Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah.

“Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi.
Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat.
Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.
“Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah.

Saat itu juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair. Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.
“Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman.
“Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr!
Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya.

Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawan zombi?
HT Reserse Sarman menguik.
“Bintara Sarman?”
“Siap Pak!”
“Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!”
“Siap Pak!”
Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran.
Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk.

…para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang Besar…
Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi!
Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya.
“Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh!
Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu.
“Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!”
“Tembak segera dengan rudal!”

“Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!”
Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding.
“Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?”
“Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!”
“Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!”
Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya.
“Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?”
“Masih! Masih! Kenapa?”
“Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!”
“Aku tahu! Lantas kenapa?”

“Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!”
Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok.
“Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?”
“Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!”

“Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!”
Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas.
“Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan.
Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh!
Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!”


Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Jakarta – Yogya,
Desember 1986
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Grhhh!

Cerpen: S A R M A N

Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman:
Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan. Setelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, sarman termenung-menung. Tak lama.
Ia segera berteriak dengan suara keras.
”Jadi, untuk ini aku bekerja setiap hari, ya? Untuk setumpuk kertas sialan ini, ya?!”
Ia berdiri dengan wajah tegang. Tangan kirinya mengenggam amplop, tangan kanannya menuding-nuding amplop itu, dan matanya menatap amplop itu dengan penuh rasa benci.
”Kamu memang bangsat! Kamu memang sialan! Kamu brengsek! Kamu persetan! Memble! Aku tidak sudi kamu perbudak! Aku menolak Kamu!”
Kantor yang sehari-harinya sibuk, sejuk, saling tak peduli, dengan musik yang lembut itu, pun mendadak jadi gempar.
”Lho ada apa Man? Kok pagi-pagi sudah nyap-nyap?”
”Eh, Sarman kenapa dia?”
”Jangan-jangan ia belum makan.”
”Kesurupan barangkali.”
”Man! Sarman! Sabar man! Nanti kamu dimarahi!”
Tapi Sarman tidak hanya berhenti disini. Ia melompat ke atas meja. Ia robek amplop cokelat itu. Ia keluarkan uang dari dalamnya. Ia robek bundel uangnya. Dan sebagian uangnya ia lemparkan ke udara.
”Nih! Makan itu duit! Mulai hari ini aku tidak perlu di gaji! Dengar tidak kalian!? Tidak perlu digaji! Aku akan bekerja suka rela, tetap rajin seperti biasa! Dengar tidak kalian monyet-monyet?!”
Berpuluh-puluh uang lembar Rp 10.000,- berguling-guling di udara dihembus angin AC. Kantor itu seperti dikocok-kocok. Para pegawai tanpa malu-malu berebutan uang gaji Sarman. Pria maupun wanita saling berdesak, bersikutan, dorong mendorong, berlompatan meraih rejeki yang melayang-layang diudara. Mereka cepat sekali memasukkan uang itu sekenanya dalam kantong bajunya. Lantas pura-pura tidak tahu.
Sarman menendang semua benda yang berserakan di mejanya, map-map yang bertumpuk, mesin tik, segelas the, bahkan foto keluarganya ia tending melayang. Layer monitor computer pun pecah digasaknya
“Sarman! Kamu gila!”
Sarman melompat dari meja ke meja denganr ingan seperti pendekar dalam cerita silat. Ia tendang semua barang-barang di atas meja karyawan-karyawan lain, sambil terus memaki-maki. Tak jelasa benar apa yang dimaki.
Dalam waktu singkat, kator yang terletak di tingkat 17 itu pun berantakan. Sekretaris-sekretaris wanita menjerit: ”Aaaa!” Dan para karyawan pria memperlihatkan jiwa pengecut mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Meski dalam hati mengharap Sarman melempar-lempar lagi sisa uang yang dipegangnya. Dan Sarman bukannya tak tahu.
”Kalian mau uang? Ha? Kamu mau uang? Sukab! Kamu mau uang? Nih! Kamu mau uang? Nih! Kalian semua mau uang? Nih! Nih! Nih! Makan!”
Sambil masih melompat dari meja ke meja, Sarman, melempar-lemparkan uang ditangannya. Para karyawan berubah jadi serangga yang mengikuti kemanapun Sarman pergi. Suasana kantor sungguh menjadi hingar bingar. Wajah karyawan-karyawan itu seperti kucing kelaparan. Mereka berebutan dengan rakus. Yang sudah melompat, jatuh terdorong. Yang menubruk uang dilantai, diseret kakinya. Tidak sedikit uang robek dalam pergulatan. Tarik menarik, cakar-mencakar, tendang-menendang, tanpa pandang bulu.
”He, kalian masih mau uang lagi?” tanya Sarman sambil berdiri di atas meja kepala bagian. Mereka serentak menjawab.
”Mauuu!”
Sarman tersenyum. Keringat menetes didahinya. Ia longarkan dasi yang mencekiknya.
”Baik! Tapi kalian harus berteriak Hidup Uang! Hidup Uang! Setuju?”
”Setujuuuuu!”
Maka, seperti pemain softball melempar bola, Sarman pun segera melemparkan lagi segepok uang ditangannya. Uang itu berhamburan diudara, menari-nari bagaikan salju khayalan di hari Natal pada panggung sandiwara. Mata para karyawan dan karyawati berbinar-binar dengan riang, mulut mereka menganga, wajah mereka menujukkan semangat tekad bulat yang sangat mengharukan.
”Serbuuuu!” teriak mereka bersamaan. Pertarungan pun dimulai kembali. Kini mereka berebutan bagai pemain disuah pesta. Mereka tertawa terkikik-kikik. Saking asyiknya, mereka lupa bahwa banyak kancing baju mereka yang lepas, sepatu copot, rok tersingkap, dan rambut terburai-burai. Sarman berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Ia melompat dari meja ke meja sambil bersalto. Ruangan riuh dengan yel, meskipun tidak terlalu serempak, karena mereka berteriak sambil berebutan uang di udara dan dikolong-kolong meja: Hidup Uang! Hidup Uang!
Mendadak muncul Kepala Bagian. Ia diam saja di pintu, menatap bawahan-bawahannya berpesta pora. Wajahnya disetel supaya berwibawa. Lantas ia melangkah seperti tak terjadi apa-apa, menuju ke mejanya.
Mula-mula para pegawai itu tidak tahu, mereka masih berebut sambil tertawa-tawa. Namun yang tahu segera terdiam, dan kembali ke mejanya, pura-pura bekerja. Padahal mejanya sudah berantakan dikacaukan sarman.
Lambat laun semuanya tahu kehadiran kepala bagian. Mereka mundur dengan tersipu-sipu. Tangan mereka kedua-duanya menggenggam uang. Sisa uang bertebaran di lantai, di kursi, di meja, di bak sampah, bercampur tumpahan kopi dan gelas yang pecah. Kertas-kertas terserak-serak, morat-marit, kacau-balau, kata peribahasa seperti kapal pecah.
Sarman masih berdiri di salah satu meja. Rambutnya kacau, wajahnya buas seperti binatang tersudut, pakaianya yang biasa rapi, dan sepatunya yang berkilat-kilat, kini kumal. Kepala bagian hampir tak mengenali Sarman, karyawan paling rajin dan kedudukannya menanjak dengan cepat.
”Coba, tolong jelaskan apa artinya semua ini,” ujarnya kemudian, dengan sabar, tapi tetap tegas.
Semua terdiam. Tapi mata mereka semua tertuju kearah Sarman, yang masih terengah-engah, menjulang diatas meja. Dalam sunyi, musik yang lembut terdengar lagi, namun tak membuat suasana menjadi dingin.
Pandangan kepala bagian akhirnya pun tertuju pada Sarman.
”Sarman apakah kamu bisa turun dari atas meja itu?” Tanyanya.
”Bisa pak, tapi saya tidak mau.”
”Kenapa?”
”Jawabnya panjang sekali Pak, tidak perlu saya jelaskan.”
”Kenapa tidak? Kita bisa membicarakanya diruangan lain dan …”
”Tidak Pak! Jangan coba-coba merayu!” tukas Sarman, ”Hari ini saya menolak gaji, menolak bekerja, menolak menuruti Bapak. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi! Saya tidak suka keadaan ini! Saya benci!”
Kepala Bagian mendekat, dengan wajah kebapakkan ia mencoba menenangkan pegawai kesayangannya itu.
”Apakah kamu mau cuti Sarman? Kamu boleh ambil cuti besar, cutilah satu bulan. Kamu sudah bekerja sepuluh tahun.”
Tapi Sarman malah menjejak meja, menendang sisa tumpukan kertas di meja itu, lantas melompat lagi ke meja lain. Seorang wanita yang duduk disitu terpaku dengan ketakutan, tidak berani bergerak.
”Jangan mendekat! Saya sudah coba jelaskan mulai hari ini saya menolak apa saja! Mengerti tidak? Saya menolak apapun kemauan kalian!”
Kepala bagian itu sebetunya ingin marah, dan mengusir Sarman, tapi Sarman terlalu penting untuk perusahaan. Lagi pula alangkah tak layak memecat seorang pegawai yang sangat berjasa seperti Sarman. Sementara itu berdatanganlah para karyawan dari bagian lain. Kejadian itu begitu cepat tersebar. Beberapa petugas keamanan memasuki ruangan. Mereka akan bertindak, tapi Kepala Bagian menahan.
”Tunggu! Biar saya yang mengatasinya! Saya kenal dia, saya kenal dia, Sarman anak buah saya selama bertahun-tahun.”
Maka petugas-petugas keamanan pun hanya sibuk dengan HT mereka. Telepon berdering disalah satu meja, memecahkan keheningan, tapi Sarman keburu melompat kesana dan menendangnya. Ia masih menggenggam sebundel uang. Gajinya memang termasuk tinggi di kantor itu. Maklumlah ia sudah bekerja disana selama sepuluh tahun.
”Untuk apa kamu lakukan semua ini Sarman? Untuk apa?” tanya Kepala Bagian.
”Itu sama sekali tidak penting!”
”Lantas kamu mau apa, aku sudah menawarkan cuti besar, langsung mulai hari ini, tunjangannya bisa kamu ambil hari ini juga. Kamu juga boleh pakai hotel milik perusahaan kita di Bali, pakai Vila kantor kita di Puncak, pergilah dengan tenang biar kami selesaikan pekerjaanmu. Terus terang, selama ini kami memang terlalu…”
”Apa? Cuti? Cuti kata Bapak tadi?” Ujar Sarman sambil meletakkan tangan ditelinga, ”Cuti besar setelah sepuluh tahun bekerja. Cuti? Ha-ha-ha-ha! Cuti? Hua-ha-ha-ha! Cuti besar lantas masuk lagi, dan bekerja sepuluh tahun lagi? Huaha-ha-ha! Hua-ha-ha-ha! Ambillah cutimu Pak!”
Dan Sarman dengan lompatan karate menerjang jendela. Jendela tebal di tingkat 17 itu tidak langsung pecah. Sarman meninjunya beberapa kali sampai tangannya berdarah, lantas ia mengambil kursi, mengahantamkannya ke jendela, barulah jendela itu pecah. Angin yang dahsyat menyerbu masuk kantor. Kertas-kertas berterbangan. Sarman melompat ke jendela. Siap melompat kebawah. Orang-orang gempar dan menjerit-jerit.
”Sarman! Jangan bunuh diri Sarman!”
”Jangan akhiri hidupmu dengan sia-sia Sarman! Iangat anak istrimu! Ingat orang tuamu dikampung! Ingat Sahabat-sahabat kamu!”
”Sarman! Pakai oatakmu! Gunakan Akal sehatmu! Hidup ini cukup berharga! Hidup ini tidak sia-sia!”
Sarman yang sudah menhadap kejalan raya berbalik, sambil menendang sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.
”Bangsat kalian semua! Bangsat! Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama. Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang aku dibayar untuk itu dan bayaran itu tidaklah terlalu kecil! Ini bukan salah kalian! Ini juga bukan salah perusahaan! Ini semua hanya omong kosong! Mengerti tidak kalian monyet-monyet? Ini semua Cuma omong kosong!”
”Sarman sudah gila,” bisik seseorang.
”Kenap sih dia bisa begitu?” desis yang lain.
”Semua ini Cuma lewat dan berlalu seperti debu!”
Sarman masih terus nerocos,
”Apa kalian masih ingat angka-angka yang kalian tuliskan kemarin? Apa kalian masih ingat kalimat-kalimat yang kalian tulis kemarin? Apakah kalian masih ingat nama-nama pada daftar relasi kita kemarin? Apa kalian masih ingat nomer-nomer mobil kantor kita yang baru? Apa kalian masih ingat nama-nama pegawai baru kita? Apa kalian masih ingat nama kawan-kawan kita yang sudah keluar dari perusahaan ini? Apa kalian masih ingat nama gombal-gombal yang selalu kita beri komisi? Begitu banyak, begitu dekat, tapi alangkah tidak berarti. Kita semua memang gombal! Aku jug acuma gombal! Jadi, sudahlah, jangan repot-repot! Besok kalian akan lupakan kejadian ini! Lenyap hilang seperti debu! Seperti gombal di pojok gudang! Seperti oli di lantai bengkel! Seperti sekrup…. ”
Sementara Sarman masih terus berpidato, para petugas keamanan tidak kehilangan akal. Mereka memanggil petugas pemadam kebakaran, tapi kedatangannya menimbulkan geger.
”Mana yang kebakaran Pak?”
”Bukan kebakaran!”
”Ada apa?”
”Ada orang mau bunuh diri!”
”Di mana?”
”Tuh!”
Syahdan diketinggian tingkat 17, tampaklah jendela yang terbuka itu menganga. Sarman tampak kecil, tapi jelas, menghadap kedalam sedang berteriak-teriak. Orang-orang yang sedang berada dibawah berhenti, menatap kesana. Mobil-mobil juga berhenti. Jalanan macet. Dengan mendadak, Sarman jadi tontonan. Beberapa orang menggunakan teropong. Bahkan ada yang memotret dengan lensa Tele. Petugas pemadam kebakaran membentangkan jala. Tangga mobil pemadam kebakaran, yang Cuma 40,9 meter, diulurkan. Semprotan air disiapkan, untuk menaha laju kejatuhan tubuh Sarman, kalau jadi melompat. Jalanan macet total. Helikopter polisi merang-raung diudara. Para penonton duduk di atap mobil. Beberapa orang bertaruh dengan jumlah lumayan, Sarman jadi bunuh diri atau tidak. Namun kru televisi terlambat datang.
Jalan lain untuk mencegah Sarman juga diambil. Di Helikopter polisi itu terdapatlah keluarga Sarman, istri Sarman dan anaknya yang bungsu.
”Sarman, lihat itu anak istrimu!” teriak para karyawan dalam gedung.
”Ya, itu anak istrimu! Ingatlah mereka Sarman! Jangan berbuat nekad!”
”Sarman! Sarman! Aku istrimu Sarman! Aku mencintai kamu! Anak-anak juga mencintai kamu! Jangan melompat Sarman!” teriak istrinya sambil menangis, Suaranya menggema lewat penegeras suara di celah raungan helikopter.
”Bapak! Bapak!” seru anaknya.
Sarman berbalik. Dilihatnya wanita itu melambai dengan air mata tumpah ruah. Hatinya tercekat. Ia ingin melambai kembali. Seperti dilakukannya setiap pagi ketika berangkat kantor. Namun ini mengingatkannya pada segepok uang yang masih digenggamnya. Sarman kumat lagi. Tapi dari dalam kantor, dua petugas kemanan merayap perlahan ke jendela.
”Ingat anak-anak kita Sarman! Mereka mebutuhkan kamu! Ingat ibumu, ia mau datang minggu ini dari kampung! Sarman, o Sarman, jangan tinggalkan aku Sarman!” teriak istrinya lagi.
”Apa? Pulang untuk ketemu kamu?! Ketemu dengan segenap tetek-bengekmu?! Pulang utnuk menemui segenap omong kosongmu?! Kamu tidak pernah mau tahu perasaanku! Kamu Cuma tahu kewajiban-kewajibanku! Kamu Cuma tahu ini!”
Sarman mengacungkan uang ditangannya,
”Kamu Cuma tahu ini kan?!”
”Bukan begitu Sarman, aku tidak bermaksud begitu, kamu salah sangka Sarman, aku …”
”Ini uang kamu! Makan!”
Dan Sarman melempar ratusan ribu rupiah ke udara. Uang ditangannya sudah habis. Lembaran-lembaran uang itu berteberan ditiup angin, berguling-guling dan berkilauan dalam siraman cahaya matahari.
”Sarman, o Sarman…” Istrinya menangis tersedu-sedu. Anaknya hanya bisa berteriak,
”Bapak! Bapak!”
Angin masih bertiup kencang diketinggian itu. Sarman melihat uang gajinya berguling-guling melayang kebawah. Kertas-kertas itu belum sampai tanah. Masih melayang-layang menyebar. Orang-orang dikantor yang ada ditingkat bawah dari kantor Sarman terkejut melihat uang berterbangan di udara. Dibawah anak-anak maupun orang dewasa bersiap-siap menangkap uang itu. Suasana sangat meriah. Sarman termenung. Sekilas terlintas untuk megakhiri sandiwara ini.
Saat itulah kedua petugas keamanan yang merayap, tiba di jendela. Salah seorang meyergap, berusaha merangkul Sarman, namun gerakkan yang abru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya itu kurang sempurna. Sarman malah jadinay terpeleset, ketika membuat gerakan refleks menghindar. Petugas itu hanay mencengkeram sepatu sarman.
Orang-orang dibawah berteriak histeris. Oarang-orang dalam gedung berebutan melongok dari jendela.tubuh sarman meluncur. Dalam jarak yang cukup jauh Sarman sempat berpikir, sandiwaranya kini menjadi kenyataan. Dengan gerak mirip tarian, tubuh Sarman menembus sebaran uang kertas yang belum juga sampai kebumi. Di bawah, pemadam kebakaran telah membentangkan jala penyelamat lebar-lebar. Empat selang memancarkan air dengan keras ke atas.
”Apakah Sarman akhirnya bisa diselamatkan?” desak Alina yang sudah tidak sabar.
”Oh, itu sama sekali tidak penting Alina,” jawab si juru cerita, ”Itu sama sekali tidak penting.”


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Baca selengkapnya…. - Cerpen: S A R M A N

Cerpen: Manusia Kamar

Pada umurnya yang ke-20 ini, ia mulai memasuki periode sinis kepada dunia. Aku telah mengenalnya semenjak ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Aku bilang padanya, dalam kehidupan itu semua biasa. Ia bisa mengerti, tapi tak bisa menerima.Lima tahun yang lalu ia masih hidup dengan penuh harapan. Tapi yang penting mungkin bukan sekadar harapan. Yang penting adalah kenyataan, dan kenyataan telah membuatnya kecewa. Ia mulai jenuh dengan basa basi. Sikapnya mulai kasar dan terang-terangan. Banyak kawan mulai sakit hati, dan akhirnya ia tersingkir.Aku hanya sekali-sekali saja berjumpa dengannya, karena kau tahu, kesibukan makin hari makin bertambah. Mungkin cuma aku yang mengerti persoalannya. Ia menghindari persahabatan, aku maklum, persahabatan terkadang bisa membunuh. Ia terasing dan kesepian. Tampaknya ia lebih
suka demikian karena telah jadi pilihannya. Ia bahagia dalam ketidakbahagiaannya atau ia tidak bahagia dalam kebahagiaannya.Ia memang suka berfilsafat. Aku sering bingung mendengar kata-katanya, tapi tetap mencoba melayaninya. Jika sudah kenal, berbicara dengan dia amat menyenangkan. Pengetahuannya luas dan apa yang dikatakannya sering tidak terbantah. Kawan-kawan yang lain agak segan terhadapnya, karena ia terlalu sering menelanjangi kebebalan mereka di muka umum. Mereka bilang ia terlalu asyik sendiri, suka berkhayal, nyentrik dan tidak bisa bergaul.
Aku sendiri menganggap ia manusia biasa, yang sedang menjalani tahap-tahap kehidupannya. Tapi tahap itu dilaluinya dengan amat serius dan penuh makna. Aku sendiri heran kenapa bisa demikian. Selama beberapa tahun terakhir, gejala itu memang mulai tampak.
“Aku bosan lihat orang-orang itu.”
“Kenapa?”
“Munafik, penjilat, tukang onani jiwa.”
“Wah, jangan begitu dong. Itu manusiawi kan?”
“Memang, tapi sebal melihatnya. Jenuh.” Ia sangat serius, sementara banyak orang di sekelilingnya makin hari makin mencari kemudahan dan kesantaian. Ia tak mendapat tanggapan, dan marah.
Untung ia bisa menyalurkannya dalam latihan teater atau menulis puisi, namun ini tidak berlangsung lama. Rupanya dunia kesenian pun tak memuaskan. Ia ketemu lagi dengan pemimpi, pembual dan juga penjilat. Semenjak ia keluar dari perguruan tinggi dan rombongan sandiwara itu dua tahun yang lalu, aku tak pernah lagi melihatnya.
Aku teringat ketika untuk terakhir kalinya berpapasan dengan dia di jalan.
“He kampret, dari mana saja kamu?”
“Bertapa,” katanya dengan lesu.
Dalam remang senja itu, perlahan-lahan kemudian menjadi jelas, bajunya begitu kumal meskipun termasuk mahal. Juga celananya. Sepatunya sih normal, tapi heh rambutnya itu, wah seperti sapujagat: kusut dan kaku, dan entah berapa bulan tidak disisir. Dulu, meskipun ia termasuk seniman yang urakan, pakaiannya termasuk rapi dan mengikuti mode.
Pasti perubahan-perubahan semacam ini disebabkan oleh suatu hal yang sangat mempengaruhi dirinya. “Bertapa? Bertapa di mana? Gua Langse?”
“Bertapa kok di mana! Zaman sekarang orang bertapa di kamarnya
sendiri! Tahu nggak lu?” Busyet! Ketus amat.
Aku kurang bisa mengerti. Kebudayaan macam mana yang menghasilkan manusia ini. Dan apakah yang dikerjakannya selama ini? “Baca buku! Hanya baca buku! Tidak makan dan tidak minum!” Wah, wah, wah, ia memang sudah berubah rupanya. Semua kitab suci dilalapnya, mulai Zabur, Taurat, Injil, Qur’an sampai Goethe, Tao, Khonghucu, Wedhatama, Wulangreh, Upanishad, Bhagawadgita, Sartre, Heidegger, Karl Marx dan Ranggawarsita. Kini di tangannya kulihat pula bukunya Erick Fromm, Schumacher dan sebuah buku tentang Zen.
Rupanya ia barusan dari toko buku.
“Masih jenuh melihat manusia?”
“O tentu, tentu. Di toko buku tadi banyak orang sok pintar. Ada orang memborong ensiklopedi. Melihat tampangnya sih, cuma buat pajangan ruang tamu. Sialan! Dasar gombal semua orang-orang model begini!”
Aku mengajaknya nonton film. Ia bertanya dulu film apa. Ia benci film action. Maunya nonton film-film Ingmar Bergman, Werner Herzog atau Wim Wenders. Tapi tentu saja tidak ada. Aku bilang ini film Indonesia pemenang Citra, namun dengan hormat ia menolak, ada hal yang lebih
penting, katanya. Iseng-iseng kuajak ia ke tempat pelacuran. Lho, ia mau.
“Ini baru namanya hidup,” katanya setelah keluar dari kamar.
Ditenggaknya segelas bir. Dan sepanjang malam itu, di tengah alunan panas musik dangdut, aku mendengar kuliah-kuliahnya tentang individualisme, eksistensialisme, kapitalisme, ekosistem, religiusitas, dan kritik budaya. Sudah melayang aku dengan berbotol-botol bir, ditambah pula dengan pikiran-pikirannya yang tinggi di awan itu, aku tiba-tiba saja tergeletak di meja, tertidur pulas.
Esoknya ia sudah tidak ada. Dan tujuh hari pun menjadi seminggu. Empat minggu menjadi sebulan. Dua belas bulan menjadi setahun. Waktu begitu saja lewat tanpa terasa. Banyak orang merasa telah menjadi tua, sementara orang-orang lain malah merasa makin muda. Kehidupan masih berjalan seperti biasa. Ada orang jujur yang tak pernah mujur, dan orang yang berjiwa bunglon masih selamat. Dunia belum betul-betul kiamat. Sungai masih mengalir, dari gunung ke desa, ke kota, ke muara, ke laut, bersama sejumlah besar sampah.
Di jendelaku masih ada burung yang bulunya kuning, yang tiap pagi masih berkicau. Mungkin tiba saatnya nanti burung tidak bisa berkicau, kehilangan bahasa. Angin masih silir. Senja masih jingga.
Fajar masih ungu. Telepon itu berdering.
“Halo? Ya? He! Telepon dari mana kamu?”
“Dari rumah.” “Di mana? Aku pengin ketemu kamu.”
“Sorry saja bung! Rahasia! Sekarang tidak ada sistem ketemu. Kalau ada perlu, telepon saja, ini nomorku, 717375.”
“Tapi ini penting.”
“Takut disadap?”
“Soalnya ini masalah pribadi.”
“Apalagi itu, sorry.”
Kami bercakap sebagaimana layaknya dua kawan yang lama tidak berjumpa. Ia bertanya tentang segala macam hal dengan suatu urutan pertanyaan yang sistematis, sehingga kalau jawaban itu dikumpulkan, mungkin bisa merupakan laporan riset. Ha! Ini perkembangan baru. Ia haus informasi, tapi begitu pelit akan informasi dirinya sendiri. Ketika hubungan itu selesai, kembali lagi ia menjadi misteri bagiku. Apalagi bagi kawan-kawan yang lain.
Dengan bodoh aku masih bertanya sama mereka di mana alamatnya. Tentu saja tidak tahu. Kutanyakan pada orang tuanya, ini pun nihil. Ternyata selama ini mereka pun hanya berhubungan lewat telepon.
Telepon? Heh, tolol sekali aku. Kutelepon dia. “Halo?” Telepon segera diangkat.
“Di mana sih rumah kamu?”
“Lu ngga perlu tau gue punye rume. Kalok perlu telepon aje bung!”
“Gue ade perlu ni ame lu!” Eh, kenapa aku jadi ikut-ikutan bergaya Betawi?
“Sampaikan saja lewat telepon!”
Ia tampak terganggu.
“Pertemuannya yang penting!”
“Maaf, aku tidak terima tamu.”
Klak.
Nging.
Tut tut tut.
Bangkek orang ini. Sombong sekali dia.
Tapi aku jadi penasaran. Seperti detektif film seri televisi, kucoba menyelusuri jejaknya. Namun ia sungguh pintar. Berbagai tabir tidak bisa disingkapkan dengan segera. Banyak juga waktu terbuang untuk mencari batang hidungnya. Mula-mula kuhubungi kantor telepon. Nomor teleponnya memang ada alamatnya, kudatangi rumah itu, ternyata sebuah rumah kecil yang kosong. Pintunya terkunci dari luar, kudobrak. Dan tetap kosong. Apa artinya ini? Kutunjukkan pada kantor telepon, mereka bilang memang itu alamatnya, dan tiap bulan menerima uang ongkos telepon. Tapi siapa yang masang? Segera petugas dicari, tapi ke mana petugas itu? Ia sudah dipindahkan ke luar kota.
Aku benar-benar penasaran. Segala alamat rumah di kantor kotamadya kucek dan cek kembali, kalau-kalau ada namanya. Tapi sungguh rumit.
Biasa, administrasi yang kacau. Jadi? Nihil. Lantas bagaimana? Ha!
Malam hari! Ia suka keluar malam, aku harus begadang sepanjang malam menelusuri kota ini.Maka ketika malam dengan jubahnya yang hitam telah tengkurap menelungkupi kota.
Ketika dingin mulai menyerbu jalanan yang mulai basah oleh gerimis, dengan krah jas hujan yang tegak menutupi telinga, dengan topi model bandit Itali, lengkaplah aku sebagai intel Melayu yang amatiran.Tapi jadinya aku lebih mengenal kehidupan. Aku tahu apa yang terjadi di hotel-hotel, aku tahu dari desa mana pelacur jalanan itu berasal, aku bisa mengendus mobil pejabat siapa yang diparkir di motel itu. Kutelusuri segala tempat hiburan malam, perpustakaan, restoran, kompleks gelandangan, warung-warung kopi, tempat banci-banci mangkal, tempat homo-homo berkencan, mesjid, gereja, vihara, klenteng …
Bermalam-malam sudah dan hasilnya nol besar.
Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga. Malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti memberikan perasaan aman dan
terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.Agak sulit mencari orang normal. sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden. Aku jadi maklum kenapa kawanku jadi jenuh. Ia tidak menerima mereka sebagaimana adanya. Ia mencari yang baik-baik saja, dan itu memang
sulit, dan bisa jadi malahan tidak ada. Sedangkan kalau ada, mungkin juga tidak menarik dan tidak menyenangkan. Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis. Aku melihat ia agak kacau. Dan aku jadi
makin penasaran saja. Ke mana dia, kenapa tidak ada seorang pun yang tahu? Kenapa pula ia harus menghilang?


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
(Jakarta, 1980)
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Manusia Kamar

Cerpen: Cermin Maneka

DI depan cermin Maneka tertegun. Ia tidak melihat dirinya sendiri.
Kalaulah harus ada satu hari yang harus menjadi lain di antara hari-hari lain, ia tidak mengharapkan kelainan itu berlangsung begini rupa. Setiap malam ia memang berdoa agar hidupnya berubah keesokan harinya. Ia berdoa agar hari-harinya tidak lagi begitu membosankan dan begitu menyebalkan justru karena tidak pernah ada persoalan. Segalanya begitu mudah bagi Maneka, begitu lancar dan begitu beres sehingga tiada lagi perkara yang bisa menjadi masalah baginya. Ternyata, hidup tanpa persoalan juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Maka, begitulah, setiap hari ia berdoa agar hidupnya berubah. Dan pagi ini, bangun tidur, hidup tidak berlangsung seperti biasanya. Di depan cermin, ia tidak melihat dirinya sendiri.
Maneka bukan hanya tidak melihat dirinya sendiri. Ia juga tidak melihat kamarnya yang serba kelabu. Temboknya berwarna kelabu, lantai, seprei, langit-langit juga kelabu. Ada kelambu, yang tidak perlu, karena kamarnya ber-AC, warnanya putih lembut, hanya menjadi hiasan ranjangnya. Namun, sisanya serba kelabu. Ada sebuah lukisan besar di dinding, sebuah lukisan hujan gerimis dengan seorang perempuan berjalan menjauh membawa payung. Lukisan itu juga serba kelabu. Kalau ada warna kuning, itulah cahaya lampu di tepi ranjang dan kamar mandi. Bila Maneka menatap lukisan tersebut sebelum tidur, ia selalu ingin bangun sebagai perempuan dalam lukisan itu. “Aku ingin bangun pada suatu pagi di mana aku berjalan menempuh hujan gerimis sambil membawa payung melalui jalan berkelok-kelok di tepi jurang menuju entah ke mana,” ujarnya di dalam hati. Tetapi bukan saja hidupnya tidak berubah, bahkan bermimpi pun ia tidak pernah. Maneka adalah manusia yang tidak pernah mengalami mimpi. Maneka merasa sangat bosan. Hidupnya seperti sebuah garis lurus yang tidak menarik sama sekali. Ia inginkan gerimis, ia inginkan hujan, ia inginkan sebuah perjalanan. Maneka menginginkan perubahan.
Di dalam cermin itu ia melihat hutan. Tentu ini hutan bukan? Pikirnya. Dilihatnya cahaya matahari menembus celah dedaunan dan batang-batang pohon raksasa. Ia melihat sebuah hutan dalam dongeng dengan burung-burung berkicau, kericik air, dan jeritan monyet di kejauhan. Sesekali terdengar kibasan sayap burung-burung besar, menyibak di antara suara-suara serangga yang sebentar diam sebentar berbunyi. Ini sebuah hutan yang bagus, hijau, dan berbau basah. Maneka menghirup bau humus, ia mengulurkan tangannya. Wah, cerminnya tidak berkaca. Cermin tempatnya berhias yang bulat tinggal sebuah bingkai menuju ke dunia yang lain. Masih dengan baju tidurnya yang tipis dan lembut, Maneka melangkah memasuki cermin itu, dan berlari di atas rumput basah menuju ke aliran sungai.
Maneka melompat-lompat riang. Hidupnya sudah berubah. Ada persoalan besar yang harus dipecahkannya kini. Mengapa cerminnya bisa menjadi ajaib seperti itu? Tentu saja hal itu tidak bisa dijawabnya sekarang. Dan tidak harus sekarang. Ia tidak ingin hidupnya segera menjadi membosankan kembali. Ia ingin menikmati dahulu dunia di balik cermin itu, sebuah hutan lebat yang dahsyat dan menyenangkan, sebuah dunia tanpa manusia yang tersimpan dan tersembunyi untuk dirinya sendiri. Ia melihat bunga-bunga yang tidak pernah dilihatnya, bahkan di toko bunga yang paling mahal sekalipun. Bunga-bunga hutan yang tumbuh liar tanpa sentuhan tangan manusia selalu lebih memesona daripada bunga di taman kota manapun. Maneka merendam kakinya yang mungil itu di sungai yang jernih dengan bebatuan yang terlihat jelas di dasarnya. Cahaya matahari membuat segalanya terlihat demi Maneka. Mata Maneka yang takjub bagaikan ingin menelan dunia ke dalam dirinya. Ia tidak pernah mengira bahwa daun yang tertimpa cahaya di sebaliknya memperlihatkan pesona hijau yang berbeda. Kerangka daun menjadi garis-garis hitam, ia tidak seperti melihat daun, melainkan sesuatu yang lain. Mata Maneka berkejap-kejap memandang semesta dedaunan yang melingkupinya.
Ia menoleh ke arah dari mana ia datang. Bisakah ia kembali ke kamarnya melalui cermin itu? Maneka terkesiap, dan berlari sekencang-kencangnya. Disibaknya semak-semak setengah gugup dan melaju ke arah bingkai yang tadi dimasukinya. Ternyata ia sudah jauh berjalan. Dengan terengah-engah Maneka berlari mendaki. Burung-burung beterbangan dari semak karena terkejut. Kini Maneka tak peduli. Ia berlari dan berlari, sampai akhirnya melihat tempat di mana ia tadi masuk. Ia melompat kembali ke kamarnya. Angin bertiup, dan sejumlah daun kering ikut beterbangan masuk ke sana. Maneka menoleh, ia melihat dirinya di cermin, di dalam kamar yang serba kelabu, masih terengah-engah dan baju tidurnya robek di sana-sini. Terdengar ketukan di pintu.
“Maneka! Maneka! Sudah jam segini kok belum bangun?”
Ibunya tidak menunggu. Ia membuka pintu. Dilihatnya Maneka sedang memandang cermin dengan terengah-engah.
“Maneka! Kami dari mana? Lihat kakimu! Kotor!”
Maneka melihat kakinya, penuh dengan tanah yang basah. Lantai kamarnya penuh jejaknya yang kotor. Daun-daun kering bertebaran di atas tempat tidur.
Jendela masih tertutup. Ibunya tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Namun, ia senang melihat mata Maneka yang cemerlang seperti bintang.
Setelah ibunya pergi, Maneka menyanyi:
cerminku, cerminku
kenapa kamu bisa begitu…
***
SEJAK peristiwa itu Maneka selalu berangkat tidur dengan perasaan pergi ke sebuah negeri yang jauh. Ia masih selalu tidur tanpa bermimpi. Tetapi ketika bangun, matanya segera melirik ke arah cermin, dan ia tahu betapa dunia sudah berubah di seberang sana. Ia akan mengalami mimpi-mimpi yang nyata. Masih dari tempat tidurnya ia tahu bagaimana segalanya menjadi lain, karena cermin itu tidak pernah lagi memantulkan kamarnya yang serba kelabu. Apabila ia terbangun, ia melihat tepi sebuah dunia yang lain di mana ia bisa mengembara sepuas-puasnya. Seluruh dunia terdapat di balik cermin itu.
Pernah suatu ketika ia bahkan terbangun karena mendengar suara panggilan.
“Maneka! Maneka!”
Ia menuju ke cermin itu, terlihat dermaga yang menuju ke sebuah kapal.
“Ayo! Jadi ikut tidak?”
Ia melihat sebuah kapal pesiar dengan orang-orang berpesta di atasnya. Maneka tidak beranjak. Ia tidak suka berada di tengah orang banyak. Ia lebih suka sendiri. Maka ia tidak melangkahkan kakinya. Ia menggeleng. Perempuan yang tadi memanggilnya pun pergi. Dilihatnya perempuan yang juga masih mengenakan baju tidur itu menaiki tangga kapal, dan kapal itu pun membunyikan peluitnya. Maneka terus melihat kapal yang putih itu, sampai menghilang ke balik cakrawala.
Dunia begitu luas di balik cermin itu. Dalam waktu singkat Maneka merasa dirinya begitu kaya karena mengetahui banyak hal yang tidak diketahui orang lain. Ibunya masih selalu merasa bingung dengan keajaiban di dalam kamar Maneka. Kamar yang serba kelabu itu semakin sering menyisakan jejak-jejak dari dunia di seberang cermin. Bukan sekadar tanah dan daun-daun kering, tapi juga bunga-bunga, kayu bakar, mutiara, baju zirah, kitab sihir, tikus putih, sup kacang merah, topi, tombak, prangko, ban mobil, komik, mahkota, kain batik, disket, kamera, cermin kecil, tas, sapu lidi, bros, liontin, kulit kerang, teropong bintang, kaus oblong I Love New York, batu-batu pantai, pistol, pil koplo, dan akhirnya juga kondom.
Tiga benda terakhir itu membuat ibunya panik, namun tetap berusaha bijak.
“Maneka, Ibu menganggap kamu sudah dewasa, jadi Ibu sepenuhnya percaya kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tolong hati-hatilah setiap kali engkau melangkah dalam hidupmu. Ibu tidak ingin kehilangan kamu.”
Maneka meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja, dan ibunya memilih untuk percaya. Tentu saja. Apalah yang harus dikhawatirkan dari seorang dara yang tidak tergantung kepada apa pun dalam menentukan langkahnya?
Pagi ini Maneka kembali bangun dan kembali melirik, hidup sudah tidak membosankan lagi bagi Maneka karena setiap hari betul-betul dialaminya peristiwa baru. Ketika ia melirik, dilihatnya semburat cahaya senja yang kemerah-merahan dari langit di luar sana yang membias ke dalam kamarnya. Kamarnya tidak lagi kelabu pagi itu, melainkan kemerah-merahan karena cahaya senja dari matahari yang sedang turun perlahan-lahan ke balik cakrawala di seberang sana. Angin meniupkan bau laut. Cuping hidung Maneka bergerak. Ia melompat bangun dan menengok cermin itu, dan tertatap olehnya sebuah pemandangan yang penuh pesona. Tiada yang bisa lebih memesona selain senja merah keemas-emasan di tepi sebuah pantai yang membuat langit semburat jingga seperti seolah-olah terbakar sehingga air laut yang memantulkannya bagai genangan cat air yang kejingga-jinggaan dan keemas-emasan dan berkilau-kilauan.
Maneka beranjak dan melompat tanpa berpikir lagi. Baginya pemandangan senja adalah segala-galanya dalam hidup ini karena adalah senja yang memberi keyakinan kepadanya betapa hidup memang tidak akan pernah sama. Senja selalu menyadarkan Maneka, betapa perubahan adalah keberlangsungan setiap detik dan mesti betapa indah dan betapa penuh pesona senja itu, namun, akan selalu berakhir. Itulah sebabnya ia selalu memburu senja, seperti memburu cinta, betapapun tiada akan pernah abadinya cinta itu.
Ia berlari sepanjang pasir menuju ke pantai. Senja memang gemilang, tetapi dilihatnya mayat bergelimpangan. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang pantai yang berkilauan, sesekali terdorong karena hempasan ombak. Maneka terpana, ratusan, bahkan ribuan mayat terserak sepanjang pantai itu bagaikan akhir dari sebuah pertempuran yang mahadahsyat. Pantai begitu indah, namun melapetaka hanya menyampaikan duka. Maneka melangkah di antara ribuan mayat yang tergolek dan bertumpuk bagaikan susunan sebuah monumen. Sesekali dilihatnya darah mengalir di pasir yang basah. Ombak berdebur dan menghempas seperti biasanya ombak berdebur dan menghempas, tapi kali ini Maneka tidak sempat merenung. Ia memeriksa mayat itu satu persatu dengan harapan setidaknya masih bisa menemukan satu atau dua atau beberapa orang yang masih hidup, namun semuanya sudah mati.
Maneka berlari dari mayat yang satu ke mayat yang lain. Kali ini dunia di balik cermin itu bukan lagi sesuatu yang membuatnya meloncat-loncat bahagia. Air mata Maneka berderai melihat wajah-wajah yang menderita dalam kematiannya. Wajah-wajah yang penuh dengan cerita tak terbahasakan, namun menularkan langsung pengalaman duka mereka yang dalam. Mayat yang tertelungkup dengan panah di punggungnya, mayat yang terkapar dengan tombak di perutnya, dan mayat terduduk dengan belati di dadanya. Bagaimanakah pengalaman bisa begitu menyakitkan? Dunia Maneka yang indah, meriah, dan bahagia dalam kesendiriannya, rontok dan hancur lebur berkeping-keping tanpa sisa dalam dunia orang banyak. Cinta dan senja yang dirindukannya menjelma kepahitan tak tertahankan.
“Maneka! Maneka!” Ia mendengar suara, namun tak dipedulikannya.
Di tepi pantai itu, pohon-pohon nyiur berderet dalam siluet yang bagus, bagaikan pemandangan dari sebuah brosur pariwisata. Langit hanya merah dan Maneka menjadi sosok hitam yang berjalan di antara mayat-mayat bergelimpangan. Burung-burung camar mengakhiri jeritannya dan menghilang. Maneka termenung dalam kegelapan yang menjelang. Mayat-mayat itu adalah mayat orang-orang yang terbunuh. Mayat-mayat itu masih hangat, darah masih mengalir, beberapa di antaranya bahkan baru menghembuskan napas penghabisan ketika Maneka mendekatinya. Hanya beberapa saat sebelum Maneka melangkah dari cermin itu dan berlari menuju ke pantai. Apakah yang telah terjadi? Maneka berharap kejadian yang dialaminya kali ini benar-benar hanya sebuah mimpi buruk.
Maneka melangkah meninggalkan pantai. Debur ombak menjadi suara di kejauhan. Di atas bukit pasir ia tertegun, ke manakah ia harus kembali? Tidak ada kehidupan di tempat ini, hanya mayat-mayat, pasir, dan debur ombak. Ia tak bisa menemukan tempat dari mana ia tadi datang.
***
DI kamarnya yang serba kelabu, ibunya membuka pintu. Kamar itu kosong. Ibunya melangkah masuk. Dibukanya kamar mandi. Juga kosong. Dari cermin yang bulat dan besar, ibunya melihat lukisan yang selalu dipandang Maneka. Lukisan seorang perempuan yang melangkah dalam hujan gerimis, menempuh jalan berkelok-kelok di tepi jurang sambil membawa payung. Lukisan itu mengingatkannya kepada sesuatu.
“Aku ingin pergi jauh Ibu,” kata Maneka selalu di masa kecilnya, “pergi jauh ke sebuah dunia yang belum kukenal.”
Ibunya keluar kamar. Ia memanggil.
“Maneka!”
Cermin Maneka tetap seperti dulu, diam dan membisu, membayangkan kembali kamar yang kelabu.


Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Pondok Aren, Minggu Legi, 17 September 2000.
Baca selengkapnya…. - Cerpen: Cermin Maneka